03
Sep
06

Balada Sang Geraham

Dengan sedikit cemas dan takut, akhirnya aku pergi juga ke dokter gigi untuk mencabut gigiku yang sudah parah dan selalu sakit-sakitan ini. Sang geraham kiri ini memang sudah sejak lama bermasalah. Dulu sudah di coba untuk dicabut waktu aku masih di Malang (kalau tidak salah waktu itu ke puskesmas sengkaling), tetapi karena kata dokternya masih kuat akhirnya sang geraham hanya di tambal saja.

Dan akhirnya, sekian lama di Jakarta (pada bulan ini berarti sudah lebih dari 3 tahun) aku masih belum menemukan dokter dan sikon yang tepat untuk kontrol (mostly about my limited money) n sang geraham semakin terkikis, tambalannya dah hilang entah kemana, dan lubangnya semakin lama semakin menganga. Menyisakan sakit yang sangat, apalagi pada saat aku capek dan jadwal tidurku sangat sedikit (which is sangat sering sekali hal itu terjadi pada weekday). Puncaknya adalah minggu lalu (Agt 06), gigi ini gak pernah berhenti cenut-cenut. Sudah dikasih ponstan, sudah dikasih jadwal istirahat yang cukup, sudah berusaha minum vit. C (sapa tau cma masalah gerahamnya saja), pokoknya sudah beragam cara untuk menjinakkan sang geraham tapi tidak ada satupun yang berhasil. Dan tampaknya sang geraham ini sangat caper, dia tiba-tiba saja goyang and it does hurt me much. It was Sunday, mana ada dokter gigi yang buka hari Minggu begini. So, I think I have to hold it down until Monday.

Dengan pertimbangan tempat yang dekat, akhirnya hari Seninnya aku pergi juga ke sebuah klinik dokter gigi tak jauh dari Pasar Tebet Barat. Ditemani oleh my beloved, aku diperiksa oleh juga oleh bu dokter gigi. She’s nice. Wearing veil. Membuatku agak merasa tenang dan rasa takutku memudar. Dia bilang geraham ini memang bermasalah, dia masih bengkak, kena infeksi dan belum bisa di cabut. Akhirnya aku cuma menambal gigiku yang sisi kanan dan sang geraham tampaknya masih melancarkan aksi capernya.

Aduuh, gini deh kalau pergi ke dokter, pasti abis itu dikasih obat. I hate drink medicine. Dokter memberiku resep, aku musti minum obat itu selama beberapa hari (2 hari) agar hari Rabu nya bisa di cabut. Hiks, kalau gak dipaksa sm my bf aku gak akan ke apotik dan beli obat itu. Sudahlah hari itu aku menghabiskan 187.5 (150 for tambal gigi dan dokter, 37,5 utk obat). Yaaah, padahal kan aku belum gajian … mana gak bisa di reimburse lagi (asuransi dari kantor sama sekali tidak berguna, hanya bisa di certain places dan hanya men-cover limited items, transport ke tempat yang direkomendasikan bakalan lebih mahal daripada ke dokternya)

Hari Rabu, aku berharap sudah bisa mengakhiri sepak terjang sang geraham. Tapi sekali lagi aku gagal, tampaknya dia masih bener-bener manja. Bu dokter bilang (it’s a new doctor, not the one who checked me last Monday) masih bengkak dan belum bisa dicabut. Hmmm, setidaknya sang mahkota geraham yang goyang itu sudah dicabut. Ok, 60 melayang dan 60 lagi untuk obat pahit yang akhirnya bikin aku trauma dan tidak mau meminum obat itu lagi (bahkan sampai keesokan harinya aku masih bisa merasakan pahitnya di dalam mulutku).

Hari Sabtu akhirnya datang juga, aku sudah benar-benar mengumpulkan kekuatan untuk pergi dan menyerahkan sang geraham untuk dicabut. No turning back ! Aku harus kuat. Now or Never! With full girl power (my beloved gak bisa menemani aku dan aku sudah menolak tawaran teman-teman yang mau mengantarkanku) aku pergi juga. Di sana resepsionis nya bertanya “Gimana mbak, sudah siap kan?” Waduuh, say no more deh. Siap gak siap. Takut. Mo balik pulang aja rasanya. Ok ok, take a deep breath. Sudah waktunya mengakhiri penjajahan sang geraham. Aku musti kuat. Ayooooo …….

Tick tack tick ….. bu dokter masih melayani pasien yang telah terlebih dahulu datang. Keinginan untuk pulang kembali terlintas dalam benakku. Aku takuutt. Hiks, andai saja ada ibuku disini. Dia pasti akan menguatkanku. But I’m alone now. Bismillah aja deh. Kapan lagi kalau gak sekarang. Dengan mantap, aku masuk ke ruang praktek dokter saat namaku dipanggil.

Ayo silahkan duduk, kata dokter. Mempersilahkan aku duduk di kursi gigi. Ok, Bismillah. Sekali lagi aku berusaha menguatkan diri. Gak usah takut, kata dokternya. Dan dia mulai menyuntikku dengan obat bius yang membuat lidah dan mulutku terasa tebal. Proses pencabutan sang geraham akhirnya dimulai. Geraham ini memang bener-bener caper. Pake acara sembunyi segala sampai aku musti di x-ray untuk mengecheck apakah masih ada sisa nya. Tak henti-hentinya aku berdzikir, Subhanallah Walhamdullilah Wallaillahaillallah Wallahuakbar. Subhanallah Walhamdullilah Wallaillahaillallah Wallahuakbar. Subhanallah Walhamdullilah Wallaillahaillallah Wallahuakbar.

Sudah Mbak. Kata dokternya. Sang geraham akhirnya menyerah juga. Coba lihat, ini ada dua pecahan geraham. Dan ini juga ikut kecabut, kantong nanah yang selama ini bikin sakit. Dokter menjelaskan. Yup, sang geraham sudah tergeletak disana. Bersimbah darah dan terbelah dalam dua potongan.

Dokter kembali memberiku obat. Saya kasih obat yang sama dengan yang kemarin ya?. Ok, dok. Aku menjawabnya, walaupun aku sudah bertekad tidak akan menebus dan meminum obat yang sangat pahit itu. Sekali lagi aku menengok sang geraham yang masih teronggok dalam wadah aluminium. Bye, geraham. Kamu sudah berhasil mencari perhatianku. Tapi ternyata sampai disini saja aku bisa melayanimu. Bye, geraham. I’ll continue my life without u now.

Dan sang geraham membalas dendam dengan bill yang harus kubayar sebesar 300.
God, u have spent me more than a half of million!!!

Advertisements

0 Responses to “Balada Sang Geraham”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: