26
May
07

Keinginan dan Keperluan

Kadang ada banyak niatan dalam hati, pengen ini itu ini itu. Pengen punya kantong Doraemon yang bisa mempermudah semua keinginan kita. Nah, coba cermati kalimat sebelumnya : semua KEINGINAN kita. Kalau dicermati dan sekali lagi dipikir, apakah kita harus selalu memenuhi keinginan kita? Okay, mungkin jawabannya “Iya, harus” Tapi coba ingat ada satu kata lagi yang kita lupakan. Bagaimana dengan KEPERLUAN?? Ya, keperluan. Hmm, mirip-mirip tapi gak sama lho.

Kalau kita bilang “Aku pengen A” bukan berarti aku memerlukannya. Tapi kalau kita bilang “Aku perlu A”, berarti aku harus memenuhinya. Tapi pada kenyataannya, dua kata ini sekarang menjadi rancu. Saat kita bilang “aku pengen itu”, bisa jadi kita berusaha setengah mati mengusahakannya, padahal bisa jadi kita belum membutuhkannya.

Apalagi dihubungkan dengan dunia yang semakin menganut konsumerisme tingkat tinggi ini. Semua hal mendadak menjadi keperluan, bukan kebutuhan. Sebut saja ponsel atau baju. Banyak orang yang merasa butuh untuk selalu meng-update kedua barang itu. Okay, bukan berarti menyalahi hak asasi tuk mau beli atau enggak. Tapi coba pikir dua kali, sebegitu butuhnyakah kita sampai kita harus selalu membeli ini atau itu.

Sekarang mari kita kembali ke dasar keperluan kita. Pasti semua orang di jaman SD dulu sudah mendapatkan materi ini, kebutuhan itu ada tiga yaitu : kebutuhan Primer, Sekunder, dan Tersier. Gak usah dijabarkan dengan lebih detail juga semua sudah mengetahui pengertiannya. Apa hubungannya dengan KEINGINAN dan KEPERLUAN. Wah, tentu banyak dong. Keperluan sering kali berhubungan dengan kebutuhan primer dan sedikit kebutuhan sekunder. Sedangkan sang Keinginan lebih banyak berhubungan dengan kebutuhan sekunder sampai tersier.

Jadi apakah tetep merasa rancu? sudah jelas beda bukan?
Trus apakah kita akan terus diperbudak oleh keinginan kita tanpa memikirkan apa keperluan kita? Sudah saatnya kita sedikit melihat kondisi sekitar kita. Masih banyak orang-orang yang tidak seberuntung kita. Masih banyak orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kalau kita mempunyai sedikit lebih, kenapa tidak kita bantu mereka. Kenapa tidak kita memberikan sedikit senyuman kepada mereka. Bukankah rejeki itu juga pemberian dari-Nya. Kita tidak akan tau sampai kapan kita dipercaya untuk mempunyai rejeki yang berlebih. Kalau bukan untuk membantu sesama, adakah alasan lain Tuhan memberikan kelebihan itu? Tentu bukan karena untuk memenuhi keinginan kita yang tanpa batas itu kan? ^_^

Cara bersyukur yang paling mudah adalah selalu mengingat bahwa kita adalah bagian dari masyarakat, dari sesama, yang secara naluriah selalu berkumpul dan saling membantu satu sama lain. Jadi, apakah Anda masih menjadi bagian dari sesama manusia???

Advertisements

0 Responses to “Keinginan dan Keperluan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: