27
Dec
07

Happy Ied ul-Adha 2007

Alhamdullillah, Idul Adha kali ini bisa almost perfect as expected. ‘Greget’ yang sebelumnya kurang aku rasakan karena merayakannya di Jakarta tampaknya tidak terulang lagi kali ini. Bangun jam 4.30 setelah pintu digedor oleh my servant (sebuah upaya back-up apabila weker tidak berhasil membangunkanku), dan langsung bersiap-siap mandi dan memakai my best clothes (as recommended by Al-Hadist). Setelah selesai shalat subuh dan berdandan akhirnya jam 5.40 aku meluncur ke Istiqlal. Di tengah jalan aku baru sadar kalau aku tidak membawa sajadah, hmm … agak ragu juga mo balik ato enggak. Tetapi dengan anggapan bahwa pastinya aku masih dapat tempat dengan karpet sajadah hijau, akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan perjalananku. Jalanan lumayan sepi, terlihat banyak orang mulai berjalan kaki menuju masjid terdekat.

Sekitar jam 6 aku sudah memasuki kawasan masjid istiqlal. Pemandangan pertama yang aku temui adalah banyak orang-orang yang menawarkan kresek warna hitam, yang kalau tidak salah dengar dijual dengan harga dua ribu rupiah (waaah, mahal amat ya?). Aku kira kresek itu akan dipakai sebagai tempat daging kurban, ternyata baru aku tau kalau ternyata kresek itu banyak digunakan para jamaah untuk tempat sandal/ sepatu mereka. Berjalan semakin kedalam, tepatnya di area parkiran motor, aku disambut dengan banyaknya para pengemis berkeliaran dengan tampang dan baju yang sangat mengenaskan (aku ingat ada seorang nenek yang diatas mata kirinya ada gelambir panjang yang hampir menutupi matanya, Masya Allah … ).

Agak bingung waktu mo masuk ke pintu yang mana, ada pintu kecil dan juga pintu dengan balkon. Karena sudah pernah masuk dari pintu kecil itu dahulu kala, aku memilih untuk masuk dari pintu yang berbalkon. Dalam rangka pengamanan yang ketat, tasku musti memasuki conveyer belt layaknya kalau kita mo check-in di bandara. Masuk ke istiqlal, aku mencari tempat penitipan sandal (hmm, daripada buat beli kresek, mendingan uangnya buat sodaqoh aja). Dan aku menaiki tangga menuju ke tempat shalat.

Waaaah, aku sudah lupa betapa gedenya masjid Istiqlal ini. Aku juga sudah tidak ingat kapan terakhir kali aku kesana. Rasanya saking gedenya, aku bisa saja tersesat, hehehe ….

Sampai di tempat shalat, wah wah …. ternyata lantai satu sudah penuh … pupus sudah aku dapat tempat dengan sajadah hijau. Hiks, tau gitu aku tadi balik ngambil sajadahku. Aku akhirnya naik ke lantai dua di sayap bagian kiri, yang ternyata juga gak kalah penuhnya dengan lantai pertama. Jadinya aku shalat gak pake alas apa-apa neh, yaaa itung-itung ingat kesederhanaan deh (plus siap-siap masuk angin karena lantainya dingiiiin banget).

Waktu masih menunjukkan jam 6 lewat sepuluh menit pada saat aku selesai menunaikan shalat sunnah Tahiyatul Masjid untuk menghormati rumah Allah ini. Berganti-ganti posisi duduk, mulutku tiada henti melafalkan takbir.

Sudah mulai jam 7, dan aku mulai tidak sabar menunggu dimulainya shalat Ied. Bapak presiden dan berbagai pejabat juga sudah datang, tunggu apa lagi neh shalatnya. Hmm, kakiku dah mulai pegel-pegel neh. Setelah beberapa pengumuman singkat mengenai banyaknya sapi dan kambing yang diterima oleh panitia masjid Istiqlal, akhirnya … shalat Ied dimulai juga.

Suara khotbah tidak terdengar jelas olehku. Entah karena speakernya yang kurang keras atau memang sekitarku yang terlalu ramai. Yang pasti aku hanya mendengar beberapa kata dan kalimat saja. Padahal aku sudah membawa ballpoint and notes buat mencatat ceramah nya lho …..

Setelah ditutup oleh doa, ceramah selesai juga. Aku berusaha menelepon beberapa orang untuk mengucapkan Happy Ied, tetapi anehnya tidak berhasil. Lhoo, aku kan kemarin baru saja mengisi pulsa. Ehhh, setelah di check ternyata handphone ku tidak berhasil mendapatkan sinyal barang satu bar pun tidak ada !! Aneeeh deh. Ternyata setelah aku tanya temen-temenku, memang sengaja sinyal nya dikasih jammer, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak aman, mengingat bapak presiden, menteri dan berbagai pejabat sedang berada di mesjid agung istiqlal ini.

Duduk di pinggir area luas yang tengah dipenuhi orang-orang yang sedang asyik berfoto, aku malah sibuk menelepon rumah dan berusaha berbicara dengan ibu dan adikku. Menyampaikan selamat Idul Adha sekalian menanyakan bagaimana kabar kambing kurbanku.

Jam 8 lebih aku sudah meluncur kembali ke rumah, jalanan masih sepi dan tampak banyak orang juga baru saja kembali dari masjid. Untuk semakin menguatkan suasana Idul Adha, aku mencoba menghubungi beberapa teman dan keluarga untuk bersilaturahim. Sedihnya keluargaku sudah berkumpul di rumah nenek di Trenggalek sedangkan teman-temanku juga sudah menuju ke rumah keluarganya masing-masing. Hiks, sedihnya aku tidak bisa bersilaturahim ke siapapun.

Akhirnya, sisa hari itu aku lewatkan untuk beristirahat, tidur dan nonton DVD sepuasnya. Mo nonton hewan kurban di sembelih juga gak tega … mendingan cari sate kambing buat makan siang aja yuuk …..

Advertisements

0 Responses to “Happy Ied ul-Adha 2007”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: