19
Jun
08

Movie : Nim’s Island

NIMS-02Sekali lagi sebuah film yang diadaptasi dari sebuah novel, tapi kali ini aku tidak sempat membaca novelnya (well, baru tau kalau itu adaptasi dari novel juga pas abis baca-baca review). Sebetulnya tidak ada rencana sama sekali untuk menontonnya, karena rencananya mo nonton Indiana Jones. Eh, ternyata Indiana Jones sudah tidak diputar di 21 Setiabudi (Jeff salah lihat jadwal di website). Daripada nonton film horror Indonesia yang gak jelas, akhirnya kita memilih untuk menonton Nim’s Island.

Target film ini sebetulnya adalah untuk para anak-anak yang sedang liburan sekolah, sehingga tema dan alur cerita yang disajikan sangat sederhana. Aku dengan mudah bisa membaca kira-kira bagaimana alur bahkan akhir dari cerita. Walaupun begitu film ini cukup bagus, apalagi dengan adanya Jodie Foster sebagai salah satu pemain pembantu dan setting film yang membuat mata cukup segar dengan adanya hamparan laut biru, hijaunya hutan, dan kelucuan binatang-binatang pulau.

Cerita dimulai dengan legenda hilangnya seorang ibu yang dimakan oleh hiu. Sang anak – yang bernama Nim – tinggal disebuah pulau terpencil hanya dengan ayahnya dan juga ditemani dengan berbagai binatang peliharaannya : burung camar, kuda laut, dan kadal yang mirip dengan komodo. Walaupun terpencil, kehidupan mereka berdua tetap up-to-date dengan adanya koneksi internet dan berbagai kiriman yang dikirim sebulan sekali oleh sebuah helikopter. Nim sangat menyukai membaca dan dia mengidolakan Alex Rover – sebuah karakter hero dari salah satu novel kesukaannya.

Permasalahan dimulai saat ayah Nim, Jack, tidak kembali ke pulau selama beberapa hari setelah berusaha untuk mendapatkan sample penelitiannya. Sang ayah terjebak in the middle of nowhere saat perahunya terkena badai dan semua alat komunikasinya terputus. Selama itulah Nim yang merupakan satu-satunya manusia penghuni pulau itu mengalami berbagai petualangan yang seru. Nim berhasil mengusir para pelancong dan businessman yang ingin menjadikan pulau itu sebagai salah satu objek wisata. Nim juga berhasil membuat Alexandra, pengarang novel Alex Rover favoritnya dan menderita agoraphobic, untuk datang menemui Nim dan berusaha membantu menemukan Jack. Dari sini sudah bisa ditebak bahwa sang ayah dan penulis akhirnya bertemu dan saling menyukai and they are living happily ever after in the island.

Such a perfect story, isnt it? Well, memang ceritanya sangat ‘dongeng’ and childish. Tetapi film ini ternyata cukup menghibur dan bukan menjadi agenda yang salah untuk melewatkan weekend.

Advertisements

3 Responses to “Movie : Nim’s Island”


  1. June 20, 2008 at 8:00 am

    di malang udah maen blom ya??

  2. June 20, 2008 at 7:56 pm

    Wuih ini template gonta ganti mlulu……

  3. June 20, 2008 at 9:02 pm

    @ anton : pas aku check websitenya 21 kok gak ada ya di kota Malang. Emang disana sekarang pada muter film apa?

    @ tamacrea : yes, i did. ini karena template yang sebelumnya menge-crop image dan jadi tidak rapi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: